Bercadar tapi Belum Menjaga Pergaulan

img-tumb https://id.pinterest.com/pin/556194622715819513/

Pertanyaan:
Bagaimana kalau kita melihat wanita bercadar keluar bersama nonmuhrim walaupun itu temannya. Dan dia perempuan sendiri.

Jawaban:

Mahram dari seorang wanita di antaranya: (1) anak laki-laki; (2) cucu laki-laki; (3) Ayah; (4) Kakek (dari Ayah/Ibu ke atas); (5) saudara sekandung (seayah/seibu); (6) keponakan laki-laki dari saudara/saudari sekandung; (7) Paman (Saudara sekandung dari Ayah/Ibu/Kakek/Nenek); (8) mertua/mantan mertua; (9) menantu/mantan menantu; (10) Ayah tiri/mantan Suami dari Ibu (yang telah berhubungan badan dengan Ibu); (11) Anak laki-laki tiri/anak mantan Suami; (12) saudara sepersusuan.

Mahram adalah setiap orang yang haram untuk dinikahi selamanya. Penggunaan istilah muhrim itu sebenarnya kurang tepat. Karena muhrim artinya ialah orang yang melakukan ihram dalam ibadah haji atau umrah.

Jika melihat fakta seorang wanita bercadar misalnya, namun ia pergi keluar rumah tidak bersama dengan mahramnya, serta terjadi interaksi di antara mereka (misal bercengkerama, bahkan saling bersentuhan misalnya), maka telah terkategori jatuh dalam hukum ikhtilath.

Ber-ikhtilath itu haram hukumnya. Dalam Islam, kehidupan laki-laki dan perempuan itu hakikatnya ialah terpisah. Kebolehannya bertemu dan berinteraksi ialah dalam hajat syar’i (keperluan yang dibenarkan oleh syariat Islam) saja. Hajat syar’i yang membolehkan terjadinya interaksi di antara pria dan wanita di antaranya dalam hal perdagangan (bisnis/jual-beli), pendidikan, kesehatan, serta peradilan. Interaksi itupun sebatas terpenuhinya hajat syar'i yang dimaksud, tanpa dibumbui senda gurau di dalamnya. Di luar urusan tersebut maka kehidupan pria-wanita ialah terpisah.

Mengenai fakta yang ditemui tersebut, perlu untuk diklarifikasikan langsung ke wanita bercadar tersebut. Silakan ditanyakan ke yang bersangkutan apakah para pria tersebut merupakan mahramnya. Bisa jadi prasangka selama ini keliru, misal ternyata teman-teman tersebut merupakan saudara sepersusuan misalnya. Kita perlu mendahulukan positive thinking kepada saudari kita sesama muslim.

Namun, jika setelah diklarifikasi ke yang bersangkutan, ternyata didapati jawaban bahwa mereka semua merupakan teman laki-laki non mahram, maka kewajiban sebagai sesama muslim ialah menasehati dengan cara yang ma'ruf. Sampaikan padanya bahwa siapa sajakah orang-orang yang merupakan mahram kita. Dan siapapun di luar daftar tersebut maka bukanlah termasuk mahram. Serta haram bagi wanita muslimah berkhalwat (berduaan saja dengan non mahram tanpa ditemani oleh mahram bagi si perempuan). Ikhtilath dimana terjadi adanya campur-baur antara pria dan wanita non mahram pada suatu tempat dan terjadi interaksi di dalamnya, maka hal tersebut juga dilarang dalam Islam.

Kita perlu memahami bahwasanya orang yang berpenampilan agamis, nampak begitu Islami misalnya, wanita bercadar serta berhijab lebar, belum tentu pula kesehariannya menjalankan seluruh syariat dalam Islam. Pria yang berjenggot dan bercelana cingkrang pun tak sedikit yang masih enggan untuk meninggalkan muamalah ribawi.

Semua itu bisa jadi karena mereka belum memahami keseluruhan ajaran Islam. Di antaranya terkait tata pergaulan Islam, maupun sistem ekonomi Islam misalnya. Atau bisa jadi mereka sudah faham akan aturan tersebut, namun mereka masih enggan untuk menjalankannya dalam keseharian. Entah karena gharizah baqo' (naluri mempertahankan diri: rasa gengsi misalnya) yang begitu mendominasi dalam diri mereka. Atau karena gharizah an-nau' (naluri melestarikan keturunan: rasa kasih sayang) yang begitu bergemuruh sehingga dilampiaskan dengan cara bergaul dengan para pria non mahram tanpa batasan yang syar'i.

Inilah perlunya terus mengkaji Islam untuk selalu menambah wawasan & pemahaman kita tentang Islam. Agar makin luas khazanah kita tentang Islam yang begitu lengkap ajarannya meliputi segala aspek kehidupan.

Satu hal lagi yang lebih penting, yaitu perlunya kita memiliki kepribadian yang Islami. Yakni pribadi yang berpemikiran sesuai dengan syariat Islam (aqliyyah Islamiyyah) serta seiring pula dengan pengaplikasian pemikiran Islami tersebut dalam perbuatan sehari-hari (nafsiyyah Islamiyyah).

Jika aqliyyah dan nafsiyyah telah sejalan dengan syariat Islam, maka akan terbentuklah kepribadian yang Islami pula. Untuk membentuk kepribadian Islami maka perlu adanya pembinaan secara intensif dari waktu ke waktu. Sehingga kepribadian yang Islami tersebut semakin mengkristal dalam pribadi seseorang.

Oleh karena itu, akan lebih baik bila bersegera untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) kepada saudari kita sesama muslim tersebut ya!

Selamat beramar ma'ruf nahi munkar! :)

Jawaban Oleh: Kak Cynthia P. Putri, S.Psi

Dilihat 383 kali | Tags: