Cakram Cinta Kapten

img-tumb

Steve Rojali, sang kapten klub lempar cakram padepokan Greensoul lagi kacau. Fokusnya latihan lempar cakram berantakan, akurasinya kendor, Narto dan Sasongko yang merupakan andalan klub harus dirawat inap gara-gara kena lemparan nyasar. Untung aja, cakram yang dilempar Steve bukan dari Vibranium.

Alhasil, klub dari padepokan terancam batal ikut Infinity Olympic yang bakal diselenggarakan dalam waktu dekat. Tony Sartono, si anak juragan herbal yang juga diamanahi sebagai wakil kapten, kontan saja jadi gelisah. Apalagi Bruce dari padepokan sebelah berhasil mengumpulkan anggota-anggota bertalenta untuk tim JL (Jago Lempar).

Tony yang melihat Steve berasa Andi Lau (Antara Dilema dan Galau), memutuskan mengajak sahabatnya itu mengobrol. Steve mengiyakan, minta Tony bertemu dengannya di perpustakaan. Eh, lha kok tumben di perpus? Biasanya kalo ada apa-apa minta ketemuan di kantin, soalnya sekalian minta traktir. Tony yang penasaran setuju saja. Siapa tahu dengan ke perpus ia jadi tahu alasannya.

*              *              *

“Wikita Nilly?” Tony terbelalak, “kamu naksir dia?”

Steve mengangguk malu-malu. Olala, musim semi sedang bertandang ke hatinya bersama dengan murid pindahan dari Bandung itu.

Awalnya, saat masuk perpustakaan tadi, Tony heran karena di meja Steve ada tumpukan buku remaja tentang cinta, novel-novel romantis, dan juga kumpulan pepatah dan pantun. Eh, ternyata…. Semuanya jadi jelas.

“Oalah, Steve… Steve….” Tony garuk-garuk kepala, baru ngeh kalau sahabatnya ini lagi jatuh cinta.

“Ya, itu. Aku jadi nggak fokus ngapa-ngapain, Bruh. Kepikiran melulu.”

Tony masih menyimak.

“Aku tahu sih kalo dalam Islam jatuh cinta ke lawan jenis ga boleh kan ya? Tapi kalo didiemin aku jadi penasaran dan kepikiran terus. Aku harus gimana ya, Ton?”

“Bukan nggak boleh jatuh cinta, Cap….” Toni tersenyum, “jatuh cinta dan mencintai itu fitrah, nggak dilarang dalam Islam.”

Rona wajah Steve berubah bersemangat, “Serius? Boleh gitu cinta-cintaan?”

“Eits, sabar dulu, Cap... Kamu sih, kemarin nggak dateng kajian, jadinya nggak tahu kan?”

Steve meringis, “Jadi, gimana tuh?”

“Sebentar, kamu baca aja deh rangkumannya…” Tony mengambil buku catatan dari dalam tasnya, lalu memberikannya ke Steve, “Nanti kujelasin sambil kamu baca, oke?”

Di bagian yang ditandai Tony, Steve mulai khusyuk membaca.

Nah, Greensoulid, berikut ini adalah rangkuman bahasan tentang cintanya. Silakan disimak juga bareng Steve Rojali alias Captain ya. Monggo….

*              *              *

Cinta, dalam buku Risalah Cinta, Ibnu Hazm al-Andalusi menyatakan bahwa cinta tak dimusuhi agama dan tak dilarang oleh syariat-Nya. Cinta adalah urusan hati, sementara hati adalah urusan Ilahi.

Greensoulid juga masih ingat apa yang dibilang Pakde Doel Sumbang? Cinta adalah anugerah, begitu katanya. Nggak heran kalau tiba-tiba kena lovestruck. Semua itu karena Allah SWT telah menganugerahi manusia dengan naluri untuk melestarikan keturunan (gharizatun nau’) yang merupakan fitrahnya manusia. Nah, naluri melestarikan keturunan ini sebenernya banyak bentuknya. Sayang pada ortu, sayang pada anak, sayang pada sodara, dan juga sayang kepada si dia yang potensial diakadi jadi teman hidup. Hihihi.

Ustad Abdul Somad dalam sebuah kajian—yang kebetulan viral banget di yutub lho, Gaes—menyebutkan bahwa mencintai atau tidak mencintai itu bukan pilihan. Suka atau tidak suka itu bukan pilihan.

Yang menjadi masalah, menurut ustad Abdul Somad, ketika dia sudah melompat menjadi tindakan. Misalnya, cinta kepada istri orang, bukan pilihan. Tapi mulai mencari namanya di Facebook, melangkah ke Add Friend, lalu minta confirm, lalu minta nomor HP, itu pilihan.

Greensoulid, begitulah… sah-sah aja kalo kita jatuh cinta. Hanya aja, bagaimana cinta menemukan jalannya, tentu Islam memberikan arahan dan bimbingan. Islam menempatkan cinta pada tempat yang mulia, mendapatkannya pun dengan tata cara yang memuliakan. Nggak asal tabrak ataupun asal sikat.

Lantas, kita kudu gimana? Rasulullah SAW dengan gamblang memberikan arahannya dalam hadits berikut.

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah sanggup di antara kamu untuk menikah maka hendaklah dia menikah. Maka, sesungguhnya menikah itu menghalangi pandangan (kepada yang dilarang oleh agama) dan memelihara kehormatan. Dan barangsiapa yang tidak sanggup, hendaklah dia berpuasa. Maka sesungguhnya puasa itu adalah perisai baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yup, begitulah Islam mengarahkan manusia perihal berhubungan dengan lawan jenis, Gaes. Dengan menikah. Bukan kalo nggak mampu nikah, hendaklah dia berpacaran lho ya… Sebab dengan berpacaran, muda-mudi yang dimabuk asmara itu tidak akan bisa menghindarkan diri dari hal-hal yang terlarang dalam agama, seperti berdua-duaan, pandang-menandang, bahkan bersentuhan satu sama lain.

“Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (H.R. Bukhari & Muslim)

“Setiap bani Adam mempunyai bagian dari zina, maka kedua matapun berzina,dan zinanya adalah melalui penglihatan, dan kedua tangan berzina, zinanya adalah menyentuh. Kedua kaki berzina, zinanya adalah melangkah-menuju perzinahan. Mulut berzina, zinanya adalah mencium, hati dengan keinginan dan berangan-angan. Dan kemaluannyalah yang membenarkan atau menggagalkannya.” (H.R. Bukhari)

Jadi nggak ada tuh, yang namanya pacaran tapi nggak ngapa-ngapain. Fisiknya mungkin terpisah lautan, tapi hatinya selalu mikirin si dia yang nggak semestinya dipikirin terus. Oleh sebab itu, ketika cinta datang menghampiri, solusinya ya jauhi segala hal yang mengarahkan diri ke zina tadi. Jangankan melakukan, mendekati aja lho kita dilarang, Gaes.

*              *              *

“Hmmm…. Gitu ya, Ton.” Itu kalimat pertama Steve setelah sebelumnya diam menekuri rangkuman milik Toni.

“Iya, Steve. Cinta itu boleh-boleh aja, tapi caranya harus sesuai dengan apa yang digariskan sama syariat.”

Steve diam menyimak.

“Emang nggak bisa instan, Steve. Tapi kamu bisa mulai dengan mengalihkan semua perhatianmu darinya.” Tony menunjuk buku-buku romantis yang tertumpuk di meja, “dimulai dari sini. Kalau kamu baca buku romantis begini, ya pasti kepikiran terus. Gantilah dengan buku-buku perjuangan para sahabat Nabi, buku fikih, buku matematika, ensiklopedia tumbuhan, atau kalau baca tentang buku cinta, bacalah cerita cinta para ulama atau para sahabat, lihat bagaimana mereka menjalani cinta yang diridhoi. Bukan baca buku cinta-cintaan yang menye-menye begini.”

“Oh iya, ada lagi….” Tony teringat, “Stop lihatin dia lewat kelas kita. Kalau kamu ke toilet, muter aja lewat parkiran, jangan ngelewatin kelas Wikita. Intinya, jangan beri ruang perasaan tadi tumbuh makin subur, Steve.”

Steve masih diam, tapi matanya menerawang. Tony menangkap masih ada selapis kebimbangan di wajah Steve.

“Oke, gini deh.” Tony menepuk tangannya.

“Hmm?”

“Steve, menurutmu, cinta itu harusnya buat orang yang kita sayang bahagia, atau justru bikin dia terluka dan sengsara?”

“Ya pasti buat bahagia lah….”

“Kamu pengen Wikita bahagia kan?”

“Pasti!”

“Kalau gitu, mulailah dengan ngejagain dia.”

“Pasti dong. Tiap ada orang jahat ngedeketin dia, diam-diam kubuat pingsan dengan lemparan cakramku kok.”

“Walah, bukan itu maksudnya, Steve.”

“Terus?”

“Kamu tahu kan, orang pacaran itu pasti melanggar ketentuannya Allah? Dengan begitu orang yang pacaran ini kan dapat dosa. Kalau tiap hari pacaran, nikahnya lima tahun lagi, kamu hitung, berapa dosanya lima tahun itu. Dosa banyak, masuk mana?”

Steve tertegun.

“Kalau kamu cinta sama Wikita, jangan ajak dia dosa. Jangan jadi jalan baginya masuk ke neraka!” Hantam Tony tegas. Membuat Steve KO, nggak bisa berdalih lagi.

Omongan Tony tadi membuat perang batin di dalam diri Steve makin dahsyat. Setelah Steve berembug dengan nurainya, ia akhirnya berbicara, “Jadi, mulai sekarang aku harus ngejauhin Wikita kan ya? Sibukkan diri dengan hal-hal lain yang membuatku bisa ngelupain dia?”

“Secara teknis, gitu.”

“Oke.…” Steve mengangguk lemah, ada senyum agak pahit di wajahnya.

“Sambil ngejauhin dia….” Kata Tony sambil tersenyum, “Kamu pantaskan diri kamu dulu sampai waktunya tiba.”

“Sampai waktunya tiba?”

“Aduh, Steve! Ya, pantesin diri kamu untuk siap nikah. Kalau sudah, sampaikan niatanmu meminang Wikita ke Bapaknya!”

“Ya kan sekarang aku masih sekolah!”

“Kesiapan dan kedewasaan itu nggak dilihat dari umur, Cap! Kalo beneran siap pun habis lulus langsung akad bisa.”

“Okeeeee, terus?”

“Sambil nyiapin mental dan ilmunya, kamu udah cari nafkah belum?”

Steve meringis.

“Ya udah, kamu jadi reseller herbal aku aja. Keuntunganmu 20% dari harga produk dan barangnya juga nggak perlu beli dulu, kamu ambil aja di aku. Mau?”

               

-TAMAT-

                                               

“Tiga golongan yang berhak ditolong Allah yaitu pejuang di jalan Allah, mukatib (budak yang membeli dirinya sendiri dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya dan orang yang menikah karena mau menjauhkan diri dari hal-hal yang haram.” (HR. Tirmizi)

 

 

Dilihat 158 kali | Tags: #Cinta