Catatan Penutup

img-tumb

Ibarat makanan, catatan kali ini dessert-nya. Nggak berat, rasanya pun manis-manis gurih gitu. Tetep ada pelajaran berharga yang sayang kalau dilewatkan. Eh, udah baca dua catatan sebelumnya kan ya? ????

Rombongan kami dibagi menjadi dua kelompok. Entah kenapa, dari awal bertemu waktu manasik hingga di Tanah Suci, saya lebih dekat dengan orang-orang dari kelompok satunya daripada dari kelompok sendiri.

Dalam hati saya membatin, kok saya pisah sendiri ya sama mereka? Padahal mereka asyik-asyiknya orangnya. Ada rasa kecewa yang terbit, tapi kemudian saya berusaha menepisnya dan mencari pikiran yang menenangkan.

Yup, pilihan Allah nggak mungkin salah. Saya ditempatkan di sini, pasti ada maksudnya. Akhirnya berbekal keyakinan itu, saya coba buat enjoy ngejalaninnya.

Eh, Masya Allah... Ternyata betul. Beberapa jamaah yang satu kelompok dengan saya ternyata perlu bantuan mereka yang masih muda-muda. Ini jadi jalan kami buat menambah tabungan pahala selain ibadah wajar yang bisa dilakukan di Tanah Suci.

Sebutlah pak Syaifuddin dan pak Ismail, teman sekamar saya. Beliau berdua ini karakternya story-able banget. Pak Syaifuddin orangnya kecil, lebih kalem. Kalau Pak Ismail tinggi besar dan ceplas-ceplos. Mereka berdua dari daerah yang sama. Keduanya sama-sama polos dan lucu.

Mulai obrolan tiba-tiba nemu batu akik di masjid Nabawi, barengan kehilangan sandal, tiba-tiba ngilang dan nongol-nongol udah kemulan di kamar, dan banyak hal lain yang sering bikin saya ketawa dan geleng-geleng kepala. Mohon doakan kebaikan untuk mereka berdua ya, Gaes. ????

Ngomongin pemisahan rombongan tadi, bisa jadi ini juga merupakan penjagaan yang diberikan Allah agar nggak bermaksiat.

Maksudnya? Gini, yang muda-muda ini masih punya fitrah ketertarikan dengan lawan jenis kan? Kebetulan, di rombongan kami, yang paling cantik dan masih single ada di kelompok sebelah. Jadi, daripada nggak bisa ghodul bashar dan ibadahnya jadi berantakan gara-gara akhwat tersebut, Allah tempatkanlah kami bersama mereka-mereka yang lebih sepuh. ????

Kalau satu kelompok dengan si akhwat, peluang berinteraksi sangatlah besar. Nggak satu kelompok aja masih sering ketemu, apalagi satu kelompok. Kan nggak lucu, kalo misalnya tiba-tiba pas jalan tabrakan... Eh, pas mau naik lift ternyata barengan... Eh, pas mau makan di resto hotel ambil piringnya samaan. Waduh, klise sinetron banget yak. Hihi.

Lagi-lagi, skenario Allah-lah yang terbaik. Kita jangan sampai meragukannya ya, Gaes.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (TQS Al-Baqarah: 216)

Makkah, 9-4-18
Akmal Nurdwiyan

Dilihat 149 kali | Tags: