Formasi Imam dan Makmum dalam Berjamaah

img-tumb

Greensoulid, rubrik fiqh remaja kali ini membahas bagaimana Greensoulid bisa menjalankan sholat berjamaah dengan baik. Hal yang Greens di sini adalah bagaimana posisi Imam dan Makmum yang bener saat sholat berjamaah berlangsung. Kan nggak boleh, pas kita shalat posisinya seenak kita sendiri. Masa iya, shalat mau pake posisi setengah lencang kanan atau bahkan pakai formasi 3-4-3?

Panduan yang Greens tulis ini berdasarkan terjemahan dari kitab Al-Jami’ li al-Ahkam as-Sholat karya Syaikh Mahmud Abdul Lathif Uwaidhoh. Judul terjemahannya adalah “Tuntunan Sholat berdasarkan Qur’an dan Sunnah”. Jadi kalau Greensoulid mau pelajari lebih mendalam bisa merujuk kitab tersebut. Okeh, mari mulai ya….

Kondisi pertama, ketika sholat berjamaah dilakukan antara 2 orang laki-laki; maka makmum berada tepat di sebelah kanan imam, tanpa perlu ada yang lebih mundur maupun maju sedikitpun. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, dari Abdullah bin Abbas RA:

“Aku mendatangi Rasulullah SAW di penghujung malam, lalu ikut shalat di belakang beliau. Kemudian beliau memegang tanganku dan menarikku. Beliau menempatkanku berada di sebelah kanannya. Tatkala Rasulullah SAW menghadap kiblat (untuk) bersholat maka aku mundur sedikit. Rasulullah SAW melakukan sholat. Usai (sholat) beliau bertanya kepadaku, ‘Ada apa engkau ini, bukankah aku telah menempatkanmu tepat di sampingku, mengapa engkau mundur ke belakang sedikit?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, haruskah seseorang melakukan sholat tepat di sampingmu sedangkan engkau adalah utusan Allah yang telah diberi kemuliaan oleh Allah?’ Ibnu Abbas berkata, jawabanku itu telah membuat beliau merasa kagum, lalu beliau berdo’a kepada Allah untuk kebaikanku agar aku ditambahi ilmu dan pemahaman….” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Syaikh Mahmud Abdul Lathif Uwaidhoh menerangkan, ungkapan kekaguman Rasulullah terhadap Ibnu Abbas dalam hadits di atas, tidak berarti bahwa cara sholat yang disyariatkan adalah apa yang dilakukan oleh Ibnu Abbas. Ini karena Rasulullah sendiri yang menempatkan Ibnu Abbas tepat di samping beliau—tidak lebih maju maupun mundur dari beliau.

Boleh jadi do’a beliau kepada Ibnu Abbas adalah bagian dari nasehat agar bertambah ilmu dan pemahaman, sehingga Ibnu Abbas dapat sholat dengan cara yang lebih sesuai di kemudian hari. Lagipula, yang menjadi imam sekarang, kan kawan-kawan Greensoulid sendiri, bukan Rasulullah. Jadi alasan yang diutarakan Ibnu Abbas dalam hadits tersebut tidak dapat digunakan di masa sekarang.

Masih banyak hadits-hadits lain yang mendasari ketentuan makmum untuk sholat di sebelah kanan imam ketika sholat berjamaah antara dua orang laki-laki. Ini juga berlaku untuk dua orang wanita yang shalat berjamaah.

Kondisi kedua, ketika sholat berjamaah antara 3 orang laki-laki atau lebih; maka imam di depan, dan para makmum di belakang imam. Jika sholat semula berjamaah hanya 2 orang dan makmum sudah berada tepat di sebelah kanan imam, kalo dengan dugaan kuat mengetahui ada yang hendak ikut berjamaah—baik melalui isyarat tepukan di bahu maupun tidak—, maka makmum disyariatkan untuk mundur dengan tenang agar dapat berbaris di belakang imam bersama makmum yang lain.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata:

“Nabi SAW sholat maghrib, lalu aku datang dan berdiri di samping kirinya, maka beliau mencegahku dan menempatkanku berada di sebelah kanannya. Kemudian datang seorang temanku dan kami berbaris di belakang beliau. Rasulullah SAW sholat memakai satu kain dengan menyelempangkan dua ujungnya.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud)

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

“Lalu beliau memegang tangan kami semua dan mendorong kami hingga beliau menempatkan kami berdiri di belakang beliau.”

Kondisi ketiga, ketika sholat berjamaah antara laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang belum baligh; maka urutannya adalah imam, kemudian makmum di belakangnya (jika 2 orang atau lebih), kemudian barisan anak-anak di belakang makmum laki-laki, dan barisan makmum perempuan di belakang barisan anak-anak.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW dari Abdurrahman bin Ghanam RA, ia berkata, “Abu Malik al-Asy’ariy telah berkata pada kaumnya, ‘Tidakkah kalian ingin aku sholat untuk kalian dengan (cara sholat) Rasulullah?’ Maka dia kemudian membariskan kaum laki-laki dan membariskan anak-anak di belakang laki-laki, kemudian membariskan perempuan di belakang anak-anak.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Jika ada satu orang anak (laki-laki) saja, maka dia dimasukkan dalam barisan kaum laki-laki. Namun jika ada 2 atau lebih, maka lebih utama dan sesuai sunnah membariskan mereka di belakang kaum laki-laki. Understand? [] aRd

Dilihat 180 kali | Tags: