Keimanan Sampan VS Aircraft Carrier

img-tumb

Greensoulid, coba deh bayangin kalo seandainya kamu langganan juara kelas tiap tahun. Seandainya lho ya, jangan GR dulu. Meski juara kelas, tapi ternyata dari tahun ke tahun nilaimu turun. Di kelas satu, kamu bisa juara pertama dengan nilai 95. Terus di kelas dua, kamu tetep juara pertama, tapi nilainya 87. And di kelas tiga, juga juara pertama, tapi nilainya turun jadi 85. Kira-kira apa nih yang bakal kamu rasain? Kalopun nggak galau, pasti pikiranmu bakal terganggu. Ya tho?

Nah, begitulah Greensoulid, ilustrasi sederhana tentang kondisi umat Islam di Indonesia sekarang ini. Kompasislam.com (10/11/2014) mengabarkan bahwa jumlah populasi umat Islam di Indonesia pada tahun 80-an masih lebih dari 90%, pada tahun 2000 turun ke angka 88,2% dan tahun 2010 turun lagi menjadi 85,1%. Disini pasti kita bertanya-tanya, kok bisa ya?

Kalo melihat fakta, turunnya populasi itu juga dikarenakan banyak terjadi pemurtadan, Guys. Sedangkan yang masuk Islam, jumlahnya mungkin ndak sebanyak itu.

Ada dua hal yang bisa kita amati dari fenomena ini. Pertama, kok begitu mudahnya umat Islam melepaskan imannya karena sesuatu hal yang remeh, semisal beasiswa, hadiah, atau jabatan. Kedua, luar biasanya semangat para mualaf (meskipun jumlahnya nggak bisa dibilang banyak) untuk berIslam dan mendakwahkannya.

Miris ya? Di satu sisi, mereka yang Islam sejak lahir begitu rapuh imannya. Tapi di sisi lain, mereka yang baru masuk Islam, imannya begitu kokoh.

Dan lagi-lagi, pertanyaan “Kok bisa?” mau nggak mau memenuhi pikiran kita.

Nah, kebetulan… Ustad Sanusi pernah membahas masalah ini. Beliau menjelaskan bahwa kekuatan iman seseorang itu bergantung pada bagaimana cara keimanan tersebut dibangun. Beliau pun membagi keimanan jadi dua, satu namanya keimanan perahu sampan dan satunya lagi dinamai keimanan Aircraft Carrier. Weleh-weleh, apa lagi nih? Emang bukan Ustad sanusi namanya kalo nggak bikin sensasi, hehe.

Sampan VS Aircraft Carrier

Seperti yang Greensoulid pada tahu, sampan adalah perahu yang berukuran 3 hingga 4,5 meter. Perahu jenis ini biasa digunakan untuk transportasi sungai, danau atau hanya sekedar untuk menangkap ikan. Dalam sekali jalan, sampan bisa mengangkut 2—8 orang dan dikendalikan menggunakan dayung. Karena alat transportasi air ini dibuat dari kayu dengan menggunakan alat-alat tradisional nan sederhana, maka butuh waktu kurang lebih 25 hari untuk membuat satu sampan.

Lalu apa itu Aircraft Carrier? Aircraft Carrier atau biasanya disingkat AC adalah sebutan keren buat kapal induk. Kapal ini adalah kapal militer raksasa yang digerakkan dengan tenaga nuklir dan digunakan untuk membawa, mempersenjatai, meluncurkan pesawat, dan berfungsi sebagai markas laut.

Sebagai contoh, USS Gerald R. Ford adalah salah satu kapal induk asal Amerika yang dibuat selama kurang lebih 4 tahun.  Dengan panjang yang mencapai 332,8 meter, AC ini mampu menampung sekitar 80-an pesawat jet. Kerennya lagi, kapal tersebut dibuat dari bahan baja dan dikerjakan oleh ratusan ahli dari berbagai disiplin ilmu.

Nah Greensoulid, kita bisa lihat perbedaan yang jelas dari sampan dan kapal induk. Jika keimanan kita dibentuk seperti sampan, dari sebuah bahan yang rapuh, maka akan mudah goyah jika dihantam badai cobaan.

“Coba deh tanya kepada orang-orang di sekitar kita tentang alasan mereka masuk Islam. Kebanyakan dari mereka pasti akan menjawab, karena orang tua mereka beragama Islam.” Tegas ustad Sanusi.

Bro en Sis, seperti yang dikatakan Ustad sanusi, yang menjadikan iman itu lemah karena bersandar pada keturunan. Nggak cuma itu aja, keajaiban dan kenyamanan juga jadi biang kerok lemahnya iman.

Coba deh, sekarang Greensoulid pikirkan… Jika alasan kita beriman karena orangtua, maka apa yang terjadi kalo orang tua kita berpindah agama? Terus jika kita beriman karena keajaiban, bagaimana kalo “keajaiban” itu ada pada agama lain? Apalagi jika kita bertahan di Islam karena kenyamanan, maka bagaimana kalo ternyata menjadi biksu atau pendeta itu lebih nyaman? Nah lo, dari ketiga pertanyaan itu, jawabannya pasti satu tuh, kita akan berpindah agama. Waduh!

“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk…” (TQS Al-Baqoroh 16)

Sekarang kita beralih ke pembahasan Keimanan Aircraft Carrier. Bro en Sis, jika iman kita dibangun layaknya kapal induk, maka pasti deh bakal kuat wal kokoh bin mantap. Pertanyaan yang muncul berikutnya, bagaimana caranya?

Greensoulid, iman itu akan kuat kalo dibuktikan kebenarannya secara pasti lewat pengindraan fakta. Sebagai contoh, kita tahu jantung kita dirancang untuk tetap berkerja meski kita tidur. Nah, nggak mungkin banget toh kalo kita sendiri yang mengatur?

So, dari sini kita yakin pasti ada yang menggerakkan jantung kita. Siapa? Nggak lain adalah Pencipta jantung itu sendiri, Allah SWT! Dari sini kita telah membuktikan adanya Allah melalui fakta jantung yang bisa kita indra.

Hal serupa juga dicontohkan oleh seorang Arab Badui dengan berkata, “tahi unta adalah bukti adanya unta.”

Greensoulid, keimanan AC didapatkan secara pasti melalui proses berpikir. Sebab, berpikir akan membuat kita menerima suatu hal tanpa adanya keragu-raguan. Ingat juga bahwa akal adalah potensi tertinggi yang diberikan Allah kepada manusia. Fahimtum? Alhamdulillah.

Banyak sekali lho ayat-ayat di Al Qur’an yang mengajak kita memperhatikan sekeliling. Ajakan itu dijadikan petunjuk akan adanya Sang Pencipta yang Maha Pengatur, sehingga keimanannya kepada Allah SWT menjadi iman yang mantap karena juga berakar pada bukti yang nyata.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal.” (TQS. Ali Imron 190)

Greensoulid, hanya dengan keimanan Aircraft Carrier-lah, kita bisa siap mengarungi kehidupan. Kokoh menerjang  gelombang cobaan dan badai masalah, siap menahan rudal-rudal bisikan setan yang menyerang, dan cerdas menghindari ranjau-ranjau pemikiran yang merusak. Ingat, dibalik pemuda yang hebat ada aqidah yang kuat! [] Fay

Dilihat 138 kali | Tags: