Konsultasi Remaja: Ketika orang tua nggak suka kita ngaji

img-tumb

Pertanyaan:

Assalamualaikum kak admin,,  afwan aku mau nanya nih, aku kan udh sekitar 3bulan ini mulai ikut ngaji di salah satu komunitas dan Alhamdulillah byk perubahan dlm diriku ya walaupun nggak sempurna.. spt misal skrng aku tau pakaian syari yg diajarkan syariat, aku tdk mau pacaran, aku membatasi foto² selfie dsb.. tp lama² ortuku kyk ngga suka, mereka bilang aku terlalu fanatik dan jd org yg nggak umum dan kalo diterusin bakal sm kyk aliran garis keras, :((
 
di komunitas itu kan aku sering dikasi hadiah sm guruku, katanya beliau sayang karena kemajuanku dr awal ngaji sampe sekarang cukup bagus... setiap aku dikasi hadiah mamaku selalu bilang ati ati takutnya itu modus biar aku nggabisa lepas dari komunitas itu:(( padahal aku cm belajar islam kak disitu:'( akhir² ini aku jg agak sering berdebat sm ortuku, mereka bilang sholat aja udh cukup gausa aneh² belajar yg lain
 
aku nyaman min belajar islam, aku ngga ngerasa aneh atau gmn:(
malah aku pgn diingetin trs biar lebih istiqomah.. tp sptnya orgtuaku tdk terlalu merespon baik, trs aku harus gmn min, minta sarannyaa sedih bangetttt:((((

 

Jawaban:

Dear Fatimah yang dirahmati Allah,

Hamdalah dan puji syukur perlu kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat kepada kita berupa iman dan Islam. Serta hidayah dan kesempatan yang Allah beri untuk bisa mengkaji Islam bersama teman-teman dalam suatu komunitas. Semoga dapat senantiasa istiqomah ya!

Mengenai kekhawatiran orangtua yang seakan kurang menyukai aktivitas Fatimah yang seringkali hadir ke kajian demi kajian Islam, hal tersebut sebenarnya wajar adanya. Karena memang, framing yang dibentuk oleh media saat ini seringkali menyudutkan Islam. Mereka membuat arah pemberitaan seakan dengan rutin hadir ke kajian itu menyeramkan. Banyak diberitakan hal tersebut merupakan cikal bakal teroris. Tak jarang disebutlah ciri-ciri teroris itu adalah mereka-mereka yang rajin sholat berjamaah ke masjid, berjenggot dan bercelana cingkrang bagi kaum lelaki, serta bercadar bagi kaum hawa.

Padahal tidak semua yang rajin sholat berjamaah di masjid, berjenggot/bercadar, dan rutin mengkaji Islam itu merupakan teroris. Namun, karena ciri-ciri tersebut berulang kali diberitakan oleh media massa (TV, koran, dsb), sehingga ciri tersebut terpatri kuat dalam benak masyarakat pada umumnya. Sehingga memunculkan stigma negatif terhadap setiap muslim yang berusaha mendalami agamanya dengan mengkaji Islam misalnya dianggap identik dengan ciri teroris-lah/aliran garis keras-lah/dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Padahal hal tersebut tidak bisa digeneralisir begitu saja, bahwa orang dengan ciri khas tersebut sudah pasti teroris misalnya.

Hal ini terjadi karena media saat ini dikuasai oleh para pemilik modal (kapitalis). Mereka dengan power “modal uang” yang dimiliki, dapat leluasa mengatur arah jalannya pemberitaan di berbagai media strategis, sesuai dengan kepentingan mereka sendiri. Berita yang dimunculkan pun seringkali tendensius pada penyudutan Islam.

Lebih sering membuat penonton berita tersebut menjadi takut dan paranoid terhadap simbol-simbol Islam itu sendiri. Bahkan, mengenai Daulah Khilafah yang merupakan sebuah institusi negara Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dan pernah dilestarikan oleh para Sahabat Nabi (para Khulafa’ur Rasyidin) pun kini di-framing secara negatif oleh media. Diberitakan seakan merupakan sistem negara yang menyeramkan dan tidak toleran dengan warga non muslim.

Padahal Nabi Muhammad SAW saja mencontohkan saat mendirikan Daulah Islam pertama di Yatsrib (Madinah) ialah terdiri dari masyarakat yang heterogen alias terdiri atas beragam agama (Islam, Nasrani, Yahudi). Mereka semua dapat hidup berdampingan di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW dalam Daulah Islam dengan adanya ikatan perjanjian untuk tidak saling memerangi satu sama lain.

Lantas, bagaimana membenahi persepsi masyarakat yang sudah terlanjur keliru dalam memahami Islam? Maka tugas kita adalah memahamkan mereka yang masih belum faham mengenai hakikat Islam yang sesungguhnya. Tentunya dengan cara yang ma’ruf. Apalagi jika orangtua kita yang hendak difahamkan. Maka harus tetap memperhatikan birrul walidain terhadap beliau.

Bahkan bila perlu, ajak beliau untuk hadir ke kajian-kajian umum yang seringkali Fatimah hadiri. Sehingga beliau dapat mengetahui secara langsung bagaimana penyampaian dari para Ustadz/Ustadzah dalam forum tersebut. Beliau pun juga dapat menanyakan secara langsung kepada para Ustadz/Ustadzah mengenai segala hal yang mengganjal di benak beliau selama ini.

Atau bisa dengan mengajak salah seorang Ukhty nan Sholihah di komunitas tersebut untuk main ke rumah. Berkenalan dengan Ibunda di rumah sambil mengubah persepsi beliau tentang rekan-rekan di komunitas tersebut misalnya.

Selain itu, Fatimah dapat pula mengajak beliau diskusi perihal apapun yang terjadi di sekitar yang sekiranya dapat mengubah persepsi beliau selama ini tentang komunitas kajian yang Fatimah ikuti. Ajak beliau berfikir kritis tentang pola percaturan politik dunia yang sarat dengan konspirasi. Terutama konspirasi yang seringkali mendiskreditkan umat Islam. Jika bahasan tersebut dirasa terlalu berat bagi beliau, maka dapat diawali dengan hal sederhana yang terjadi di sekitar beliau. Seperti harga sembako atau bawang dan cabai yang terus menerus merangkak naik, apalagi jelang lebaran.

Fatimah juga dapat menjelaskan bahwa demikianlah sistem ekonomi kapitalisme dengan sistem pendistribusian barangnya yang tidak diatur oleh negara secara merata. Sehingga banyak mafia-mafia sembako yang bermain di dalam mengatur kelangkaan suplai barang tersebut beserta permainan harga di dalamnya. Lain halnya jika Sistem Ekonomi Islam yang diterapkan. Yang mengutamakan pendistribusian secara merata di kalangan umat. Namun, sistem ekonomi Islam tersebut hanya dapat diterapkan secara sempurna dan menyeluruh jika dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah.

Tanyakan pula pada beliau misalnya, bagaimana persepsi beliau terhadap istilah “Khilafah”. Jika beliau memiliki persepsi yang cenderung negatif terhadap istilah tersebut, maka berarti media telah berhasil membentuk mindset masyarakat dengan framing mereka. Fahamkan pada beliau bahwa Khilafah yang sesungguhnya tidaklah semenyeramkan yang diberitakan oleh mereka. Karena Khilafah merupakan sistem Islam warisan Nabi Muhammad SAW.

Bersabar dan terus berdoa pada Allah agar Allah bukakan pintu hati beliau untuk meraih hidayah Islam serta terbuka pemikiran beliau terhadap wawasan yang luas mengenai dunia Islam. Bahwa Islam yang sesungguhnya, tidaklah seburuk yang dicitrakan oleh media kekinian.

Serta tunjukkan pada orangtua bahwa dengan rutin hadir ke kajian, bukannya malah membuat sikap kita menjadi buruk terhadap mereka. Tapi sebaliknya, kita perlu memperlakukan orangtua dengan baik. Buktikan pada mereka bahwa bakti terhadap mereka tetap kita jalankan. Bahkan perlu untuk berusaha semaksimal mungkin untuk mematuhi titah mereka selama apa yang mereka pinta bukanlah suatu hal yang melanggar syariat Islam.

Mohonkan pula pada Allah Sang Maha Pembolak-balik Hati Manusia, agar Allah condongkan hati beliau untuk menerima Islam dengan hati nan jernih (tanpa terpengaruh dengan pemikiran masyarakat pada umumnya yang masih under-estimate terhadap penerapan syariat Islam secara kaffah).

Tetap semangat dan istiqomah mengkaji Islam ya! Dan jangan putus asa untuk memahamkan siapapun orang di sekitar kita tentang hakikat Islam yang rahmatan lil 'alamin ini.

 

Dilihat 214 kali | Tags: