Konsultasi Remaja: Tidak Dekat Dengan Ayah

img-tumb

Dear Kakcy,

Kak, sejak kecil, hubungan saya dengan ayah cukup jauh, sehingga sampai sekarang komunikasi saya dengan ayah sangat jarang, bahkan tidak pernah sama sekali bercanda. Apakah hal ini wajar bagi anak laki-laki dengan ayahnya? Jika tidak, gimana kak solusinya? Kalo saya sendiri mau mulai komunikasi dengan ayah agak gimana gitu. Terimakasih, Kak atas jawabannya. (Ahmad, Kasin)

 

Jawaban:

Ahmad yang baik,

Setiap insan pasti mendambakan kehidupan keluarga yang harmonis. Terdapat komunikasi yang lancar serta terjalin keakraban satu sama lain antar anggota keluarga. Akan tetapi, semua itu tidak terlepas dari sifat, karakter, dan pola pikir (mind-set) dari masing-masing individu.

Masyarakat umumnya masih beranggapan bahwa ayah merupakan seorang pencari nafkah saja dan urusan mendidik anak merupakan tanggung jawab ibu. Tak jarang, seorang ayah yang sudah kelelahan bekerja, pulang ke rumah dan langsung beristirahat tanpa menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan anak. Hingga esok harinya kembali ke rutinitas bekerja tanpa sempat untuk sekedar menyapa sang anak di pagi hari.

Hal tersebut dianggap wajar bagi masyarakat pada umumnya, karena adanya anggapan bahwa ayah memang tugasnya hanyalah mencari nafkah. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, tugas untuk mendidik anak tidak hanya merupakan tugas ibu saja, melainkan ayah juga harus berperan di dalamnya.

Bahkan Al-Qur’an banyak mengisahkan pada kita mengenai peran ayah dalam pendidikan anak. Sebagaimana yang termaktub dalam QS Luqman: 13 – 19; QS Al-Baqarah: 132, dan QS Yusuf: 67, yang berisi nasehat para ayah (Luqman al-Hakim, Nabi Ibrahim, dan Nabi Ya’qub) kepada anaknya.

Sebagaimana halnya mendidik, sewajarnya terdapat interaksi yang intens antara pendidik dan yang dididik selama jalannya proses pendidikan tersebut. Para ayah maupun calon ayah perlu memahami mengenai hakikat pendidikan anak dalam Islam yang merupakan tanggung jawab bersama antar kedua orangtua. Ayah dan ibu seharusnya bisa saling bersinergi dalam mendidik anak dan mencurahkan kasih sayang kepada putra-putrinya.

 

Ahmad yang baik,

Cobalah untuk menyampaikan harapanmu kepada Ayah, bahwa dirimu menginginkan beliau bisa dekat dengan putra-putrinya. Namun, jika dirasa sulit untuk memulai pembicaraan dengan Ayah, hal tersebut bisa Ahmad sampaikan kepada Ibu. Ungkapkan harapanmu mengenai adanya kedekatan hubungan dengan Sang Ayah. Tak jarang, Ibu memiliki caranya tersendiri untuk menyentuh dan menggerakkan hati Ayah.

Jika misal Ibu juga tak kuasa menyampaikan hal tersebut pada Ayah, maka mintalah pada mereka berdua agar menyediakan waktu khusus untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak-anak. Bisa dengan mengadakan acara makan bersama seluruh anggota keluarga inti (ayah, ibu, dan anak-anak), maupun sekedar ngobrol santai di sore hari saat ayah sedang libur bekerja.

Kesempatan quality time tersebut manfaatkan dengan menyampaikan harapan-harapan seorang anak terhadap orangtuanya. Upayakan momen tersebut dihadiri seluruh anggota keluarga dengan tanpa adanya gangguan gadget maupun kesibukan lain, seperti aktivitas Ibu memasak di dapur, misalnya. Persembahkan waktu khusus nan berkualitas untuk keluarga dalam suatu forum mutaba’ah (sharing berbagai hal yang dihadapi) dalam hidup. Sampaikan betapa dirimu sangat mengharapkan Ayah yang bisa dekat dengan putranya.

Dari forum sharing itu akan dapat diketahui, apa penyebab di balik hubungan yang jauh antar Ayah-anak tersebut. Mungkinkah ada kata-kata dari anak yang pernah menyakiti hati orangtua? Atau sebaliknya, mungkin pernah terjadi perlakuan salah dari orangtua pada anak sehingga membuat anak yang malah menjauh dan bersikap tertutup terhadap orangtua. Semua pihak dapat saling mengintrospeksi diri.

Hal-hal kecil yang kadangkala dinilai sepele seperti mencuci motor, membenahi genteng bocor, mengecat tembok rumah bersama, dapat membangun kelekatan antara Ayah dan anak serta menegaskan bahwa begitulah sewajarnya kegiatan para lelaki.

Menghadiri suatu forum kajian Islam, saling mengucap salam dan berjabat tangan di antara para pria misalnya dapat memberi gambaran pada anak mengenai bagaiman sikap laki-laki dalam pergaulan.

Menjalankan ibadah sholat berjama’ah di masjid misalnya dapat memberi pelajaran pada anak mengenai bagaimana menjalankan hubungan antara manusia dengan Allah Sang Khaliq.

Forum sharing tersebut pun dapat secara rutin diadakan. Misal setiap hari sabtu/ahad sore di tiap pekannya. Jika Ayah bekerja di luar kota dan hanya dapat berkumpul misal 1 bulan sekali, maka sediakan waktu khusus 1 bulan sekali tersebut sekeluarga. Saling mencurahkan segala isi hati masing-masing anggota keluarga.

Karena setiap orang membutuhkan orang lain untuk berbagi kisah dalam setiap episode kehidupan. Jika seorang anak tidak dekat dengan orangtuanya, bahkan tidak juga kepada salah satu dari keduanya, maka besar kemungkinan anak akan mencari orang lain di luar keluarga untuk menjadi teman curhatnya. Tak jarang kenakalan remaja bermunculan akibat tiadanya figur orangtua yang asyik diajak curhat oleh anak.

Oleh karena itu, sebagai orangtua maupun calon orangtua, kelak ciptakan suasana yang nyaman untuk saling bertukar pikiran, urun pendapat maupun sekedar berbagi cerita bagi seluruh anggota keluarga. Menjadilah orangtua yang terbuka sebagai tempat curhat pertama yang nyaman bagi anak-anak.

Sebagai anak pun perlu untuk menumbuhkan sikap berbakti pada orangtua (birrul walidain). Mematuhi perintah orangtua selama tidak menyalahi akidah dan syariat Islam.

Selamat mempraktekkan, semoga diberi kemudahan ya. :)

Rubrik ini diasuh oleh kak Cynthia Pratama Putri, S.Psi

Dilihat 200 kali | Tags: #Konsultasi