Menuju Kematian

img-tumb

Wahai saudaraku, menjual sesuatu yang kekal untuk membeli sesuatu yang fana hanyalah orang yang merugi, janganlah kau cintai orang yang akan kau tinggalkan, kau akan sedih dan gelisah! Peserta takwa adalah teman tulus, sedangkan peserta maksiat adalah musuh yang berkhianat. Mahar akhirat begitu sederhana; hati yang ikhlas dan lisan yang berdzikir. Jika telah beruban tetapi engkau belum sadar juga, ketahuilah engkau tidak diam di tempat, kau lihat, lisan ahli tahajud dan mata mereka terjaga. Mereka berdiri di depan pintu-Nya sambil menangis. Ketika sahur tiba, udara segarnya membuat mereka nyenyak. Hembusan istigfar di waktu pagi menerbangkan mereka. Mereka memakmurkan tempat ibadah, sementara tempat kelalaian hancur berantakan. (Ibn Al-Jauzi)

Betapa banyak berita kematian yang sampai di telinga kita, mungkin mengabarkan bahwa tetangga kita, kerabat kita, saudara kita atau teman kita telah meninggal dunia, menghadap Allah Ta’ala. Akan tetapi betapa sedikit dari diri kita yang mampu mengambil pelajaran dari kenyataan tersebut.

Sejatinya, waktu berlalu tak pernah kembali, sedang catatan amal tak pernah putus ditulis malaikat tanpa terkecuali. Kita tidak memungkiri bahwa datangnya kematian itu adalah pasti. Tidak ada manusia yang hidup abadi. Realita telah membuktikannya. Allah Ta’ala telah berfirman.

“Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barang siapa yang dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari neraka dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).” (TQS. Ali Imran : 185)

Saudaraku, silakan berlindung di tempat manapun, tempat yang sekiranya adalah tempat paling aman menjadi persembunyian. Mungkin kita bisa lari dari kejaran musuh, selamat dari kejaran binatang buas, lolos dari kepungan bencana alam. Namun, kematian itu tetap akan menjemput diri kita, jika Allah Ta’ala sudah menetapkan. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan dimanapun kalian berada, niscaya kematian itu akan mendatangi kalian, meskipun kalian berlindung di balik benteng yang sangat kokoh.” (QS. An Nisa : 78)

Seorang manusia yang sadar tentang kematian, ia harusnya tidak ingin menghadap Allah Ta’ala dengan membawa setumpuk dosa yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Dia akan sesegera mungkin bertaubat atas dosa dan kesalahannya.

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dikarenakan kebodohannya, kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya oleh Allah, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” (TQS. An Nisa : 17)

Saudaraku, ketahuilah bahwa Allah Ta’ala akan menanamkan rasa qana’ah di dalam hati seseorang yang banyak mengingat kematian. Rasa qana’ah yang membuat seseorang merasa cukup terhadap setiap pemberian Allah Ta’ala, bagaimanapun dan berapa pun pemberian Allah. Suatu saat Nabi SAW pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,

“Kekasihku yakni Nabi SAW memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, dan beliau memerintahkan aku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Terakhir Saudaraku, jadilah orang yang cerdas dalam memandang hakikat kehidupan di dunia ini. Abdullah Ibnu Umar dia pernah berkata, “Aku bersama Rosulullah SAW, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada beliau, kemudian mengucapkan salam kepada beliau, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ Dia berkata lagi, ‘Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdas’.(HR. Ibnu Majah)

Saudaraku, mari kita sadari bahwa sedang berada di dalam kendaran yang melaju menuju kematian. Sampai kapan kita enggan bertaubat, memperbaiki diri, dan hijrah menuju ketaatan? Lagi-lagi kematian tidak menunggu apapun. [] Hafidz Ridwan

Dilihat 235 kali | Tags: