Rahasia Maung Ireng

img-tumb

Desa di sekitaran padepokan Greensoul lagi dilanda kebingungan sekaligus dibuat penasaran. Pasalnya, seminggu terakhir ini, dikabarkan ada sosok hitam misterius yang bergentayangan hampir setiap malam. Sekalipun kepergok, hanya sekelebat saja dan tanpa meninggalkan jejak. Menurut kesaksian warga, sosok tadi diduga macan jadi-jadian. Para warga pun memberi julukan sosok tadi sebagai Maung Ireng, daripada manggil si sosok hitam misterius yang bergentayangan tiap malam. Peh, capek!

Kabar itu sampai juga kepada empat pimpinan aliansi keamanan desa; Sarimin, Supermin, Indomin, dan Popmin. Mereka memutuskan menindaklanjuti laporan warga desa untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok yang mendadak viral tersebut.

Lho nggak takut apa?  

Sebenernya, meski katanya serem, Maung Ireng nggak muncul buat nakut-nakutin penduduk desa, tapi bagi-bagi bungkusan nasi, baju, duit, dan kadang memberangus penjahat yang lagi sial ketahuan malam itu. Penduduk desa merasa senang dan berhutang budi, mereka ingin berterima kasih kepadanya.

Sarimin dkk. yang berusaha mencari tahu siapa Maung Ireng, akhirnya angkat tangan. Ajian pengabur jejaknya begitu luar biasa. Hanya pendekar terlatih saja yang bisa mengejar. Mereka berempat pun memutuskan pergi ke padepokan Greensoul. Pendekar-pendekar jebolan padepokan tersebut dikenal hebat-hebat.

“Jadi, kalian kemari untuk minta tolong mencari tahu siapa sebenarnya Maung Ireng?” Kata kakek Shi sambil menuang wedang uwuh di gelas para tamunya, sambil menyuguhkan Kong Guan isi rengginang. Sore itu, Sarimin dkk. diterima kakek Shi di pendopo padepokan.

“Betul Kakek Shi.” Sarimin mengangguk.

“Para warga ingin berterima kasih secara langsung padanya.” Tambah Supermin.

“Sekalian mau minta tanda tangan dan selfie bareng.” Imbuh Indomin.

“Siapa tahu saya dikasih uang dan bingkisan juga.” Popmin meringis.

Karena komentarnya, Popmin diringkus ketiga kawannya. Akan tetapi, belum sempat diikat ke salah satu tiang pendopo, kakek Shi menenangkan.

“Gini, gini… Menurut kalian, kenapa Maung Ireng sulit banget buat ketemu dan diajak kenalan?” Tanya Kakek Shi sembari menyapukan pandangan kepada tamunya.

“Malu, mungkin?” Jawab Sarimin.

“Nggak kedengeran kalau dipanggil, kali?” Tebak Supermin.

“Nggak tahu.” Indomin angkat bahu.

“Lupa belum angkat jemuran?” Popmin ngasal, berakibat tiga jitakan mendarat di kepalanya.

Sambil mencomot rengginang, Kakek Shi terkekeh melihat tingkah tamunya.

“Dengarkan aku baik-baik, Sarimin, Supermin, Popmin, dan Indomin.... Biarkan saja si Maung Ireng itu menjalankan aksinya. Toh, itu semua tidak merugikan kalian kan?”

“Tapi, Kek….” Supermin nggak rela.

“Dia sengaja menggunakan ajian pengabur jejak agar tidak ada siapapun yang mengetahui identitasnya. Saya melihatnya sebagai bentuk penjagaan diri dari sifat riya’, sekaligus sebagai bentuk pengamalan ajaran Islam.”

“Yang mana, Kek?” Sarimin penasaran.

“Nabi SAW (bersabda), ‘Dan seseorang yang bershadaqah lalu ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya.” (HR. Bukhari)

“Di samping itu, Allah SWT juga berfirman, ‘Jika kalian menampakkan sedekah (kalian), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian’.” (TQS. Al-Baqarah : 271)

Sarimin dkk. menyimak dengan khusyuk penjelasan dari Kakek Shi. Melihat tamunya masih mendengarkan, Kakek Shi melanjutkan, “Memang ada kondisi yang dibolehkan menampakkan amal. Imam An-Nawawi dalam syarah Muslim menyebutkan jika amalan wajib—seperti zakat dan shalat lima waktu—lebih utama ditampakkan. Sedangkan untuk amalan sunnah lebih utama dilakukan secara sembunyi-sembunyi.”

“Begitu ya, Kek….” Supermin mengangguk-angguk.

 “Sebenarnya, yang lebih penting, kalian jadikan apa yang dilakukan sama Maung Ireng itu motivasi untuk berbuat yang sama, bahkan lebih baik.” Kakek Shi melanjutkan, “Kalaupun kalian ingin membalas kebaikannya, maka lakukanlah dengan banyak mendoakan dia. Jika kalian penasaran sosoknya, berharaplah pada Allah SWT agar kalian dipertemukan di surga-Nya kelak.”

Nasehat Kakek Shi menghujam ke dalam relung hati Sarimin dkk. Mereka semua terdiam menekuri teladan yang diberikan  si Maung Ireng.

Ya Allah…. Betapa jauh amalan kebaikan kami daripada si Maung Ireng. Kami memohon pada-Mu agar diberikan kekuatan dan keistiqomahan dalam beramal sholih…. Aamiin Ya Rabb.

Suasana padepokan jadi sunyi sesaat, sebelum suara kremusan rengginang memecah keheningan. Siapa lagi kalo bukan Popmin?

Akhirnya, menjelang Maghrib, keempat tamu Kakek Shi pamit ke desanya masing-masing. Mereka berencana menyampaikan nasehat Kakek Shi kepada para warganya dan meminta mereka meneladani si Maung Ireng, daripada minta tanda tangan dan ngajakin selfie.

Sembari memandang Sarimin dkk. Menghilang di tikungan jalan, ingatan Kakek Shi melayang ke beberapa hari yang lalu. Sebenarnya, saat Kakek Shi pergi ke surau dekat sawah, ia berkesempatan melihat sosok asli si Maung Ireng. Si Maung Ireng tengah shalat malam sendirian, setelah sebelumnya keliling bagi-bagi sedekah. Melihat hal tersebut, Kakek Shi memutuskan untuk pulang dan shalat di rumahnya saja.

“Steve.” Panggil Kakek Shi.

Secepat kilat sesosok bayangan hadir di belakang Kakek Shi, “Siap, Guru.”

“Aku punya tugas khusus untukmu.”

 

--- BERSAMBUNG ---

Dilihat 193 kali | Tags: #Seri Pendekar Kebaikan