Sang Penjaga Keluarga

img-tumb

Gaes, kamu udah hafal, atau minimal pernah denger surat at Tahrim ayat 6? Gimana bunyinya? Yup, bener. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Dalam surat tersebut Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga kita agar jangan sampai di-grilled, broiled, braised, dan deep fried di neraka. Naudzubillah!

Tentu peringatan ini nggak main-main ya, Gaes. Lalu, apa nih yang bisa dilakukan kita para anak muda—yang di dalam keluarga bisa berstatus anak, kakak, adik, keponakan, om/tante, sepupu, atau cucu—dalam menjaga keluarga kita?

Sang Penjaga Keluarga

Dalam tafsir Ibnu Katsir (7:321), Ali RA mengatakan bahwa yang dimaksud dari ayat tersebut adalah, “Ajarilah adab dan agama pada mereka.”

Ibnu Abbas RA berkata, “Lakukan ketaatan kepada Allah dan hati-hatilah dengan maksiat. Perintahkan keluargamu untuk mengingat Allah (berdzikir), niscaya Allah akan menyelamatkan kalian dari jilatan neraka.”

Adh Dhohak dan Maqotil berkata, “Kewajiban bagi seorang muslim adalah mengajari keluarganya, termasuk kerabat, budak laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 59)

Yup, itulah beberapa tafsiran mengenai “menjaga keluarga dari api neraka”. Tentu usaha ini nggak bisa dilakukan sendirian, perlu saling bahu membahu dari seluruh anggota keluarga. Ibarat keluarga superhero The Incredibles yang saling tolong menolong menghadapi penjahat bernama Syndrome. Ee, buset… Referensi film kartun zaman kapan ini, Vroh!

Anyway, Greensoulid mungkin berpikiran, langkah konkret apa ya yang bisa kita lakukan untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ustad Iwan Januar terlebih dulu menjelaskan adanya ancaman internal dan eksternal yang perlu diwaspadai.

“Dari internal adalah habit atau bi’ah (kebiasaan) keluarga yang dibangun. Tontonan, bacaan, rekreasi, memilih teman, dsb. Maka di sini remaja harus berusaha mengubah habit negatif dalam keluarganya. Ancaman dari luar adalah serbuan nilai-nilai liberal-hedonis yang masuk lewat tontonan, bacaan, pergaulan, dan aturan-aturan di masyarakat. Ancaman dari luar ini bisa lebih kuat ditangkal jika habit dalam keluarga itu positif, dan pastinya berbasiskan akidah Islam.” Kata pria yang menulis buku berjudul Bukan Pernikahan Cinderella ini.

Ustad Iwan juga menjelaskan aktivitas seorang pemuda dalam menjaga keluarganya bisa bermacam-macam, tergantung pada posisi dia.

“Mulai dari mengingatkan saudara kandung mereka, termasuk menjadi teman dialog bagi ayah dan ibu mereka.” Jelas Ustad Iwan kepada Greens (5/9).

Lebih rinci lagi, selain menjaga dari aktivitas kemaksiatan dan mendorong dalam ketaatan pada Allah, seorang remaja bisa juga berperan lebih untuk menciptakan stabilitas keluarga yang ideal. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang remaja untuk itu.

“Berbaktilah pada orang tua, karena keridloan Allah itu terletak pada keridloan kedua orang tua. Kemudian jagalah hubungan baik dengan saudara-saudara kandung. Ketika ada konflik, berusahalah jadi juru damai, bukan malah menambah runcing persoalan.” Kata pria kelahiran Jakarta, 2 Januari 1974 ini.

Oh iya, bicara tentang kehidupan keluarga, konflik tentu akan selalu bermunculan. Dan sikap kita dalam menghadapi konflik-konflik itu juga akan berpengaruh terhadap keberhasilan kita menyelamatkan keluarga dari api neraka. So, perhatikan baik-baik sikap ya Gaes.

Ustad Iwan memberikan pula tips-tips untuk menghadapi konflik-konflik tersebut agar kita nggak salah langkah.

“Tetaplah bersikap husnudzan. Bahwa setiap persoalan itu ada jalan keluarnya, maka fokus pada solusi. Bila belum menemukan solusi maka janganlah menambah persoalan. Dudukkan persoalan sesuai tuntunan syariat Islam. Terakhir, banyak mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat dan mohon perlindungan serta jalan keluar yang terbaik.” Pungkas pria yang juga menulis buku berjudul Jendela Rumah Rasulullah SAW ini.

Yap, begitulah, Gaes. Usaha menjaga keluarga tidak hanya dilakukan oleh kedua orang tua. Kita pun harus turut andil di dalamnya. Semoga kelak, kita bisa bersama-sama memasuki pintu surga bergandengan tangan bersama dengan keluarga dan orang-orang yang kita sayangi. Aamiin. [] Ndaru

Dilihat 163 kali | Tags: