The Door To Dreams

img-tumb
Di luar angkasa yang sunyi, sebuah modul kecil berbentuk frustum bergerak perlahan mendekati ISS[1]. Di saat yang sama, ada transmisi masuk ke alat komunikasi yang ada di ISS.
 
“Ini Kapten Robin Brown dari CTV-28 Orion, kami akan memulai rangkaian docking ke ISS.” Suara seorang laki-laki terdengar melalui alat komunikasi tersebut.

Di dalam ISS, seorang laki-laki yang mirip Jason Statham memakai earset di telinganya, “Kami sudah menunggu. ISS sudah siap memulai proses docking.”

“Oke, Dave… Bagaimana kabarmu? Kami bawa gadis-gadis cantik di sini.” Sembari berbicara melalui earset, Robin memandang krunya sambil tersenyum.

Ena dan Serika, dua astronot perempuan asal Jepang yang ada di dalam modul CTV[2] balas tersenyum. Mereka gugup, ini pertama kalinya mereka menjalankan misi ke ISS. Pertama kalinya ke luar angkasa.

“Kamu baik-baik saja, Serika-chan?” Ena melirik Serika yang berdiri di sebelahnya—melayang lebih tepatnya.

“Ti-tidak… Tapi, terima kasih.” Jawab Serika sambil menoleh ke arah Ena, jantungnya berdegup luar biasa, ia gugup, tapi sangat gembira di satu sisi.

Beberapa saat setelah melakukan serangkaian docking yang mendebarkan, kru CTV-28 Orion bisa bernafas lega. Ketenangan dan presisi luar biasa yang ditunjukkan kapten mereka membuat Orion bisa berlabuh di ISS dengan mulus.

“Ini ISS,” suara Dave terdengar, “Hardmate telah dikonfirmasi.”

“Oke, sekarang lakukan penyesuaian tekanan antara ISS dan Orion.” Perintah Robin kemudian, kru CTV-28 Orion dengan sigap memencet tombol-tombol di panel kendali.

“Tekanan sudah sesuai. Kami akan membuka palka dari sisi ISS.” Dave memberi instruksi lebih lanjut, “Robin, jika kalian sudah siap, buka palka dari sisimu dan naiklah ke ISS.”

“Roger.”

Robin menghembuskan nafas lega. Setelah meletakkan kembali earset di panel kendali, ia terdiam sejenak. Robin tiba-tiba teringat sebuah cerita dari masa lalu. Cerita yang benar-benar membekas dalam hatinya. Sebuah cerita yang ia rasa perlu disampaikan kepada krunya.

“Dalam hidup seseorang, ada banyak pintu yang harus dibuka untuk meraih impiannya.”

Serika, Ena, dan beberapa kru lain sontak memandang Robin. Mereka terdiam, menanti apa yang akan disampaikan kapten mereka berikutnya.

“Entah kenaapa aku tiba-tiba aku teringat ucapan Brian Jay beberapa tahun lalu.”

Brian Jay? Oh, astronot veteran yang mengalami kecelakaan itu, ya? Batin Serika dalam hati.

“Waktu itu Brian sedang memberi kuliah umum sekelompok remaja peserta NASA’s Summer School di Gedung 37.” Robin melanjutkan ceritanya.

“Di depan pintu Vacuum Chamber yang luar biasa besar itu, Brian berbicara tentang pintu-pintu yang harus dibuka oleh seseorang untuk menggapai impiannya.

“Misalnya, impian untuk menjadi astronot dan pergi keluar angkasa diibaratkan Brian seperti sebuah pintu raksasa yang sangat kokoh. Melihat pintu berukuran raksasa, membuat banyak orang kemudian menyerah dari impian tersebut. Mereka berpikiran, ‘Tidak mungkin aku bisa membuka pintu itu’.

“Lalu, sambil tersenyum Brian berkata, ‘Tapi kalian tidak usah khawatir, kenyataannya, pintu raksasa tadi sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah pintu-pintu kecil yang sangat banyak jumlahnya. Pintu untuk bertumbuh, pintu untuk menemukan hal-hal baru, pintu kemenangan, pintu apresiasi… Masih banyak lagi pintu kecil lain yang akan kalian buka satu persatu. Dan setiap kali kalian membuka pintu-pintu kecil tersebut… selangkah demi selangkah impian kalian akan menjadi kenyataan’.

“Agar impian yang kita miliki jadi kenyataan, Brian bilang ada satu hal yang harus terus kita lakukan… Tak peduli betapa sulit jalan untuk mewujudkan impian kita, berusahalah mati-matian untuk selalu mencapai pintu berikutnya. Jika terus melakukan hal itu… Tanpa kalian sadari, tiba-tiba kalian sudah melayang di luar angkasa!

“Saat itu aku berdiri di sampingnya. Entah kenapa aku menyimak ucapannya dengan sungguh-sungguh. Benar saja, apa yang disampaikan Brian itu semuanya benar. Aku juga berusaha terus membuka pintu-pintu yang ada di hadapanku… Dan tanpa kusadari, aku sudah berada di luar angkasa.” Robin tersenyum, ia pandangi wajah krunya satu persatu.

 “Serika, Ena…Bagi kalian berdua, pintu palka ini adalah pintu lain menuju impian kalian.” Robin menunjuk pintu palka di belakangnya, “Kalian tahu cara membuka pintu ini kan?”

Ada perasaan membuncah di dada Serika, bersamaan dengan kenangan yang silih berganti berkebat di kepalanya. Mulai dari ayah Serika yang menderita ALS[3] dan meninggal dunia tak lama kemudian, saat ia memulai karirnya menjadi seorang dokter, saat ia wawancara seleksi astronot di JAXA dulu, menjadi bagian dari NASA dan perjuangannya menjadi bagian dari kru CTV-28, angan-angannya melakukan penelitian obat ALS di dalam modul Kibo[4] di ISS, hingga momen yang sedang didekapnya sepenuh hati saat ini—dipisahkan pintu palka antara Orion dan ISS.

 Ena menarik lengan Serika, mereka melayang mendekat ke pintu palka. Bersamaan, tangan mereka memegang tuas pintu palka dan diputarnya perlahan. Suara pegas terdengar dan sayup-sayup suara lonceng berdenting dari balik pintu.

 

 “Kru CTV-28, selamat datang di ISS!” [] Adaptasi dari serial uchuu kyoudai

 
CATATAN KAKI:

[1] ISS adalah singkatan dari International Space Station, stasiun luar angkasa yang besarnya setara dengan lapangan football, melayang di orbit LEO, sekitar 400 kilometer dari permukaan bumi.

[2] CTV adalah singkatan dari Crew Transport Vehicle

[3] Amyotrophic lateral sclerosis, suatu penyakit penurunan fungsi (degeneratif) pada sel saraf motorik yang berkembang dengan cepat dan disebabkan oleh kerusakan sel saraf. Mereka yang mengalami penyakit ini dapat kesulitan menggerakkan ototnya, lumpuh, tidak mampu lagi berbicara, bahkan sampai tidak mampu bernafas lagi.

[4]Kibo” dalam Bahasa Jepang berarti “Harapan”.

 

Dilihat 139 kali | Tags: