Tolak LGBT, Selamatkan Generasi

img-tumb

Tiga hari yang lalu, tepatnya 14 desember 2017, negeri kita tercinta ini dikagetkan dengan adanya headline berita “Uji Materi MK, Kumpul Kebo dan LGBT Tak Bisa Dipidana” seperti yang dilansir di liputan6.com. Berita yang menohok ini  muncul sebab Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi terhadap sejumlah pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur soal kejahatan terhadap kesusilaan. Adapun tiga pasal yang digugat adalah Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292.

Perasaan miris, bercampur takut luar biasa tiba-tiba muncul dalam benak penulis. Miris ketika melihat negeri yang penduduknya beragama, hukumnya justru melegalkan kumpul  kebo dan LGBT. Perasaan takut luar biasa juga muncuk karena generasi bangsa makin terancam dari kejahatan predator LGBT.

Bila dilihat dalam perspektif agama yang ada di indonesia, semua ajaran menolak adanya LGBT. Dalam Islam misalnya, “Maka tatkala datang azab kami, kami jadikan negeri kaum Luth itu yang diatas ke bawah (kami balikkan dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (TQS. Al-Hud: 82-83)

Selain itu, dalam agama kristen baik khususnya perjanjian baru juga terdapat larangan perilaku penyuka sesama jenis. Ingat kisah Sodom dan Gomora, serta kota-kota lain yang mengejar nafsu tak wajar? Kesemuanya itu telah menanggung azab yang juga menjadi peringatan bagi orang lain.

Dalam agama Hindu (Kama Sutra, hal 127-128) juga menolak perilaku LGBT. Bahkan menurut pernyataan Ven Ajahn Brahm, agama Budha  berpendapat bahwa pemahaman LGBT adalah penyakit fitrah manusia dan seksualitas yang menyimpang. Tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu.

Barangkali perlu direnungkan, setelah keputusan MK tersebut, terjadi gempa bumi di beberapa lokasi di pulau Jawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa bumi tektonik berkekuatan 6,9 Skala Richter (SR) terjadi pada Jumat 15 Desember 2017 pukul 23.47 WIB.

Apakah itu bagian dari peringatan Allah? Tak cukupkah kisah kaum nabi Luth menjadi pembelajaran berharga bagi pemimpin negeri ini dalam membuat kebijakan?

Telah dijelaskan dalam Al Quran surat Hud  ayat 82, tentang kisah kaum nabi Luth yang diazab Allah, “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Lut itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi”

Wahai pemimpin negeri, saatnya kita muhasabah diri. Tersebab datangnya musibah itu jikalau bukan ujian bagi orang yang beriman bisa jadi bentuk teguran dari Allah SWT kepada makhluk-Nya.

Allah telah mengingatkan kaum muslimin, dalam Al-Quran surat Al- Anfaal ayat 25, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka.’’

Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.”

Dalil tersebut menyiratkan makna bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang tidak hanya  menimpa bagi pelaku kezaliman itu sendiri, tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut. Makanya, LGBT tidak boleh didiamkan saja.

Mari kaum muslimin kita sampaikan penolakan kita terhadap aturan yang bertentangan dengan syariat ini, jangan sampai kita menyesal telah membiarkan generasi kita terancam, dan yang paling parah adalah datangnya azab Allah SWT kepada seluruh makhluk, tak terkecuali orang yang beriman sebab mereka diam saja.

Dan mari kita doakan semoga para pemimpin negeri ini tersadarkan dan menerapkan hukum Allah sebagai satu-satunya rujukan dalam membuat kebijakan. Aamiin. [] Desi

 

 

 

Dilihat 214 kali | Tags: