Tragedi Rohingya

img-tumb Sumber gambar: newsweek.com

Kalo disebut Rohingya, apa nih yang ada di pikiran, Greensoulid? Tak kenal? Baru denger? Atau justru nebak-nebak, Rohingya itu apa bener sodara kelimanya Robin?

Nama Rohingya dalam beberapa waktu terakhir ini emang lagi booming. Sayangnya, bukan kabar yang menggembirakan, tapi justru yang penuh duka lara, bahkan mengusik rasa kemanusiaan kita sebagai seorang manusia. Kalau nggak terusik rasa kemanusiaannya, ya… apa bisa dibilang manusia coba?

Sebelum kita jelajahi artikel ini lebih lanjut, Greens pengen ngajak Greensoulid buat kenalan sama etnis Rohingya ini dulu.

Kompasiana.com pada tahun 2012 lalu pernah melansir tulisan Heru Susetyo dan Nurul Islam dari Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya—Arakan (PIARA). Pada tulisan tersebut, dijelaskan kalo Rohingya adalah nama kelompok etnis yang tinggal di negara bagian Arakan/Rakhine sejak abad ke-7 Masehi.

Ada beberapa versi tentang asal kata “Rohingya”. Pertama, Rohingya berasal dari kata “Rohang”, nama kuno dari “Arakan”. Sehingga orang yang mendiaminya disebut “Rohingya”. Versi lain menyebutkan bahwa istilah “Rohingya” disematkan oleh peneliti Inggris Francis Hamilton pada abad 18 kepada penduduk muslim yang tinggal di Arakan.

Etnis Rohingya bukanlah orang Bangladesh ataupun etnis Bengali. ‘Rohingya’ adalah ‘Rohingya’. Nenek moyang Rohingya adalah berasal dari campuran Arab, Turk, Persian, Afghan, Bengali dan Indo-Mongoloid.

 Heru Susetyo dan Nurul Islam melanjutkan dalam tulisan mereka, bahwa adanya kebijakan “Burmanisasi” dan “Budhanisasi” inilah yang mengeluarkan dan memarjinalkan warga Muslim Rohingya di tanahnya sendiri di Arakan.

Etnis Rohingya mengalami intoleransi karena mereka muslim dan karena identitas etnis berupa ciri-ciri fisik dan bahasa mereka dianggap berbeda dengan mainstream. Oleh karenanya, mereka selalu menjadi subyek penyiksaan utamanya sejak 1962, ketika rezim militer U Ne Win mengambil alih pemerintahan negara Burma.

Rezim militer Thein Sein yang berkuasa sekarang juga menolak memberikan kewarganegaraan Myanmar pada Rohingya. Lebih buruk lagi, ia memasukkan Rohingya pada daftar hitam (blacklisted).

Menurut laporan investigasi yang ditulis oleh Heri Aryanto dalam situs indonesia4Rohingya.net (14/09/13), dijelaskan bahwa Pemerintah Myanmar yang tidak lagi mengakui Rohingya sebagai warga negara (stateless) dan sebagai etnis yang eksis di Myanmar, telah memusnahkan secara sistematis eksistensi Rohingya di bumi Arakan.

Sistematical Operation yang dijalankan pemerintah untuk mengeliminasi etnis Rohingya adalah dengan melibatkan kelompok ekstrimis Budha 969. Sebagaimana yang dilansir tempo.co (25/05), kelompok ekstrimis Budha 969 yang dipimpin oleh Ashin Wirathu ini percaya bahwa ada suatu rencana besar dari muslim untuk mengubah Myanmar menjadi negara Islam. Ashin juga rutin menyebarkan rumor-rumor melalui berbagai media, termasuk DVD dan Internet. Isinya berupa tuduhan menyesatkan, seperti muslim "mengincar gadis Myanmar lugu untuk diperkosa" dan "kolusi". Tindakan ini membuahkan julukan "Buddhist bin Laden". Dan pada sampul majalah Time edisi Juli 2013, dia disebut sebagai "Wajah Teror Buddha", yang kemudian dilarang beredar di Myanmar.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Pemerintahan Thein Shein mendukung kampanye kebencian yang dilakukan oleh Ashin. Sebab, Ashin dianggap menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.   

Sejak meletusnya penindasan terhadap kaum Muslim, secara berbondong-bondong warga Rohingya pergi meninggalkan tanah airnya. Mengarungi lautan mencari daratan yang bagi mereka mampu menjadi tempat tinggal yang layak.

Greensoulid, keadaan parah sedemikian itu tidak menjadikan dunia tergerak untuk segera menolong. Lebih parah lagi, negara-negara Muslim sangat lambat merespon kejadian ini. Meski sudah berlangsung lama namun fakta yang terjadi hanya ditonton tanpa segera bergerak menolongnya. Alhamdulillah, sebagian pengungsi sudah tertangani di Aceh, tapi masih lebih banyak lagi yang belum terdeteksi keberadaannya. Apakah kita menunggu berita mengenaskan lagi terkait kabar mereka yang tak pasti nasibnya? Jangan saudaraku… Jangan sampai….

Kita adalah Satu

“Seorang mukmin adalah cermin mukmin yang lain. Seorang mukmin adalah saudara mukmin yang lain, di mana saja ia bertemu dengannya, ia akan mencegah tindakan mencemari kehormatan saudaranya dan akan melindunginya dari baliknya.” (HR Bukhari dan Abu Dawud)

Greensoulid, kita dipersaudarakan oleh Allah SWT karena persamaan iman kita. Islam tidak pernah membedakan suku, ras, dan asal tempat tinggal. Sehingga kita memiliki persaan persaudaraan yang sangat kuat meski di belahan bumi yang berbeda, nggak dibatasi oleh garis-garis teritorial negara yang justru mengotak-kotakkan kaum Muslimin.

Persaudaraan sesama Muslim ibarat saudara kembar yang saling berbagi. Susah senang dirasakan bersama. Kehidupan umat Muslim merupakan kehidupan cinta kasih yang kuat.

Greensoulid ingat kisah seorang Muslimah yang dilecehkan oleh tentara Amuria pada Masa Kekhilafahan Islam Abbasiyyah?  Berita itu terdengarlah sampai ke telinga Khalifah Mu’tashim Billah. Diriwiyatkan dalam kisah tersebut, untuk membela kehormatan satu orang muslimah itu, Khalifah mengirimkan pasukan yang barisan terdepannya sudah berada di Amuria, sedangkan barisan terakhir masih berada di Baghdad, bahkan masih banyak tentara yang ingin berperang untuk membayar penghinaan tersebut. Awesome kan?

Ingat bahwa nyawa seorang Muslim memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT.

“Sesungguhnya hilangnya dunia (dan seisinya) benar-benar lebih ringan bagi Allah ketimbang terbunuhnya seorang Muslim”. (HR. at-Tirmidzi)

Jika Allah saja melindungi dan memberikan nilai yang besar bagi nyawa seorang Muslim, apalagi kita sebagai makhluk-Nya? Tentu kita wajib ikut serta melindungi saudara-saudari kita yang tertindas.

Maka, keadaan Rohingya yang terlantar dan teraniaya sekarang ini tidak akan bisa diselesaikan jika kaum Muslimin cuek bebek dan berpikir bahwa Rohingya “bukan urusan saya”. Sepatutnya, kaum Muslimin sekarang bersatu. Nggak lagi terpenjara pada “kotak-kotak” wilayah, ras dan semacamnya yang justru menjadikan kaum Muslimin terpecah-belah, lemah, teraniaya, dan dihinakan. Fahimtum?  [] Alif

Dilihat 137 kali | Tags: